Senin, 01 Agustus 2016
Rabu, 18 Mei 2016
Ayah, Maafkan Putrimu
Tak terasa...
Waktu berganti begitu cepatnya.
Kini putri kecilmu dulu telah menjadi besar.
Tapi apa yang bisa aku berikan kepadamu?
Apa yang dapat aku persembahkan untukmu?
Apa???? Bagaimana???
Maafkan aku ayah...
Untu mengembalikan seluruh keringatmu.
Untuk meluruskan tulang sendimu
Untuk memutihkan kulit terbakarmu
Untuk mengganti jeripayahmuu
Aku tak mampu...
Bagaimana mungkin aku membahagiakan mu..
Sementara aku tak mampu membahagiakan diriku sendiri..
Ku sibuk merangkai masa depan...
Ku sibuk mencintai laki laki lain yang baru masuk dalam kehidupan..
Ku sibuk memperdulikan orang yang sama sekali tak mempedulikan aku..
Maafkan aku ayah...
Maafkan aku.....
Hingga ku lupa betapa engkau tak akan tergantikan...
Hingga ku tak berkaca darimana sebab aku menjadi seperti ini..
Itu semua dari kerja keras tetes keringat pundak merapuh wajah melusuhmu....
Hanya untuk putrimu..
Ya Allah yang maha Cinta..
Sayangi ayahku.. sebagaimana kau sayangi para kekasihmu...
Haramkan api nerka baginya..
Waktu berganti begitu cepatnya.
Kini putri kecilmu dulu telah menjadi besar.
Tapi apa yang bisa aku berikan kepadamu?
Apa yang dapat aku persembahkan untukmu?
Apa???? Bagaimana???
Maafkan aku ayah...
Untu mengembalikan seluruh keringatmu.
Untuk meluruskan tulang sendimu
Untuk memutihkan kulit terbakarmu
Untuk mengganti jeripayahmuu
Aku tak mampu...
Bagaimana mungkin aku membahagiakan mu..
Sementara aku tak mampu membahagiakan diriku sendiri..
Ku sibuk merangkai masa depan...
Ku sibuk mencintai laki laki lain yang baru masuk dalam kehidupan..
Ku sibuk memperdulikan orang yang sama sekali tak mempedulikan aku..
Maafkan aku ayah...
Maafkan aku.....
Hingga ku lupa betapa engkau tak akan tergantikan...
Hingga ku tak berkaca darimana sebab aku menjadi seperti ini..
Itu semua dari kerja keras tetes keringat pundak merapuh wajah melusuhmu....
Hanya untuk putrimu..
Ya Allah yang maha Cinta..
Sayangi ayahku.. sebagaimana kau sayangi para kekasihmu...
Haramkan api nerka baginya..
Selasa, 10 Mei 2016
Surat Untuk Calon Imamku
Oleh; Bidayatul Hidayah
Untuk Laki laki yang saya sayang yang selalu ada dalam ingatan. saya beranikan diri untuk menulis kalimat dengan pena tak bertinta. saya tahu kodrat saya sebagai seorang wanita yang akan terus ditata. saya tahu posisi saya dibawahmu. saya sangat tahu bahwa kau adalah seoramng laki laki yang akan terus menjadi raja. saya paham betul, saya mencari ilmu bukan untuk menyaingi jabatanmu. saya belajar untuk membina sebuah masa depan. saya belajar untuk mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdas dari anakmu, jika saya bodoh, lantas jawaban apa yang mampu saya tuahkan?. calon imamku, pahamilah saya, bisakah kau turuti permintaan sederhana saya? saya tak minta sepenggal hartamu, karena bagi saya menjadi wanita baik adalah sebaik-baiknya harta paling berharga dalam dunia ini. maka dari itu saya yang tak mampu sempurna selalu berusa menta segalanya. kau akan kelihatan manis jika kau buang sebatang permen berasap, itu sebabnya aku akan selalu menghawatirkanmu, kau akan kelihatan gagah manakala seluruh nafasmu tak akan meninggalkan lima waktumu, itu sebabnya saya selalu berharap kamu selalu ada dalam rido-Nya. bisakah kau menuruti permintaan sederhana saya? saya bukan wanita pengatur laki-laki. saya tak sedurhaka itu, saya hanya ingin mempersiapkan calon ayah yang soleh untuk pangeran kecilku kelak, tak hanya itu, saya juga selalu berharap pada Sang pencipta Cinta, agar dimudahkan langkahmu menuju saya.
Untuk Laki laki yang saya sayang yang selalu ada dalam ingatan. saya beranikan diri untuk menulis kalimat dengan pena tak bertinta. saya tahu kodrat saya sebagai seorang wanita yang akan terus ditata. saya tahu posisi saya dibawahmu. saya sangat tahu bahwa kau adalah seoramng laki laki yang akan terus menjadi raja. saya paham betul, saya mencari ilmu bukan untuk menyaingi jabatanmu. saya belajar untuk membina sebuah masa depan. saya belajar untuk mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdas dari anakmu, jika saya bodoh, lantas jawaban apa yang mampu saya tuahkan?. calon imamku, pahamilah saya, bisakah kau turuti permintaan sederhana saya? saya tak minta sepenggal hartamu, karena bagi saya menjadi wanita baik adalah sebaik-baiknya harta paling berharga dalam dunia ini. maka dari itu saya yang tak mampu sempurna selalu berusa menta segalanya. kau akan kelihatan manis jika kau buang sebatang permen berasap, itu sebabnya aku akan selalu menghawatirkanmu, kau akan kelihatan gagah manakala seluruh nafasmu tak akan meninggalkan lima waktumu, itu sebabnya saya selalu berharap kamu selalu ada dalam rido-Nya. bisakah kau menuruti permintaan sederhana saya? saya bukan wanita pengatur laki-laki. saya tak sedurhaka itu, saya hanya ingin mempersiapkan calon ayah yang soleh untuk pangeran kecilku kelak, tak hanya itu, saya juga selalu berharap pada Sang pencipta Cinta, agar dimudahkan langkahmu menuju saya.
Langganan:
Komentar (Atom)
