Cinta di Ujung Sepertiga Malam
Oleh: Bidayatul Hidayah
Pagi yang buta dengan kicauan burung yang
berirama, dan suara adzan subuh yang berkumandan lembut mengajakku untuk
membuka mata. Ku ambil air wudhu, dengan niat ku basuhkan di wajahku dengan
berharap mendapatkan nur-Nya Allah di hari kiamat . Pagi yang cerah di sambut segerombol santri
dengan kitab yang dibawanya. Sudah
menjadi tradisi santri bangun subuh dengan segala aktivitas relijiusnya. Itu
yang menjadi pembeda antara seorang santri dengan anak kost yang lain.
Namaku Naila. Pemberian nama dari
ayahku. Aku seorang mahasiswi sekaligus santri. Suatu keberuntungan aku berada
di sini (pesantren). Tempat tinggal sementaraku di sebuah pesantren, sambil
belajar formal di kampus. Pernah ingin merasakan nikmatnya tinggal dalam kost
bersama teman-teman, dalam pikirku mungkin aku akan bisa bebas mencari jati
diri ini, bebas seperti elang yang terbang kemana-mana. Aku sempat mengelak
dengan tawaran orangtua yang diberikan kepadaku, tapi aku merasa bahwa aku
tersesat, tersesat di jalan yang benar,
dan aku merasa terpenjara di sini, terpenjara dalam kebaikan. Dengan
segala aktivitas yang teramat padat dan teramat ketat membuatku merasa terpenjara.
Di balik itu 1000 hikmah membanjiri ragaku, manakala aku tahu sebuah
kedisiplinan akan melatih kepribadian kita menjadi lebih baik, dan segala
aktivitas yang padat membuatku merasa memiliki banyak aktivitas dan merasa tak
ada waktu yang terbuang sia-sia. Sekarang aku mengerti alasan orangtuaku. Masih
teringat tutur kata ayah ketika tidak mengijinkan aku mendatangi pesta tahun
baru pada malam hari, beliau berkata “nduk, menjaga dan mendidik anak
perempuan itu bukanlah hal yang mudah, butuh keketatan untuk menjaga mutiara
ayah ini”… kata-kata beliau cukup menghantam jiwa ini, setelah aku tahu
begitu berharganya aku di mata ayahku hingga aku diibaratkan seperti mutiara,
dari situ aku mulai menjaga diriku baik-baik, karena aku adalah mutiara.
Meninggalkan ayah ibu dan adik adalah sesuatu
yang sangat berat namun harus, tapi di sini aku menemukan keluarga baru.
Merasakan hangatnya di tengah-tengah keluarga baru adalah hal yang paling
menyenangkan, dimana aku mengadu nasib seperjuangan bersama teman-teman. Mbak Rina
adalah temanku yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Aku belajar
banyak dari sini, . Nikmat memang memiliki banyak teman, karena aku sepakat
bahwa hidup sendiri itu bagaikan misteri yang suram. Aku belajar banyak hal
dari teman-temanku, dia guruku sekaligus sahabatku, semua orang yang aku kenal
adalah guruku, dan setiap peristiwa suka dan duka adalah ilmuku dan dunia ini
adalah sekolah bagiku. Ku sikapi semua dengan senyuman, meskipun aku tahu dunia
begitu kejam, terkadang pahitnya hidup mampu diimbangi oleh manisnya cinta. Dan
bersyukur adalah satu-satunya caraku untuk menikmati hidup ini.
Kesederhanaanlah yang telah mengajariku untuk tetap bertahan dan mensyukuri apa
yang ada di hadapanku, dan apa yang ada di hariku.
Di kampus aku tidak
aktif di organisasi, aku cukup aktif di edukasi. Lia teman kampusku bertanya
kepadaku “Naila, kenapa kamu lebih tertarik di edukasi daripada di
organisasi lain dan semacam LPM debat wacana gittu???” aku tersenyum, dan
jawabku cukup singkat “aku ndak suka banyak bicara tapi suka banyak berfikir
Lia… dan fikiranku aku ceritakan melalui tulisan”. Aku sadar, karena aku
merasa organisasi atau debat wacana tak cocok dengan karakterku yang pendiam
dan pemalu, aku sadar itu. Aku memiliki beberapa puisi artikel novel dan karya
ilmiah lainnya yang aku posting di akun media sosial. Alhamdulillah, tak
menyangka pula banyak yang menjadi pengikut akun di sosmedku. Sebelum
aku memosting tulisanku di media sosial, mbak Rina lah yang sering aku jadikan
korban sebagai pembaca pertama tulisanku sebelum aku posting ke media. “bagus
naila, segera di posting, salut sama isi tulisan kamu” sering kali mbak
Rina ngomong kaya gitu sehabis baca tulisanku.
Tak kalah sibuknya
dengan kegiatan di kampus. Justru di pesantrenlah yang menambah kepadatan
aktivitasku. Subuh ngaji, pagi siang kuliah, sore hafalan, malam ngaji lagi,
hanya memiliki waktu sedikit saja untuk istirahat. Ini yang membuatku untuk
menghargai waktu. Aku meningkatkan ilmu sepiritualku di sini (pesantren). Di
mana aku belajar meningkatkan kualitas ibadah yang sebelumnya begitu awam dan
datar, meningkatkan mutu ahlak diri, yang sebelumnya biasa-biasa saja.
Subuh berkumandang, “dek,
bangun…. Jamaah….”, seru mbak Rina yang selalu setia membangunkan aku kala
subuh, dan itu dilakukan ia secara rutin tanpa ada rasa bosan. Ini menunjukkan
bahwa aku tak cukup dewasa, masih belum bisa memenej diri untuk bangun
pada waktunya. Nah dari sini aku belajar. Seperti biasanya, sehabis jamaah
subuh, ada kegiatan ngaji bareng kajian kitab yang dibimbing oleh seorang
ustad, dan sesuai jadwalnya juga sesuai kitabnya. Sehabis ngaji subuh,
anak-anak pada antri mandi untuk kuliah, “yah…. Budaya ngantri itu berlaku
dimana-mana, nggak hanya di halte” pikirku dalam hati. Sehabis naruh kitab
anak-anak pada berteriakan, “aku yang mandi pertama”, terus ada lagi
yang nyahut “aku habisnya mbak”, terus ada yang nyahut lagi “mbak
habismu aku ya??” . terkadang aku tersenyum dari kamar mendengar anak-anak
berlomba-lomba antri mandi. Dan yang paling aku suka dari teman-teman adalah ia
saling bertoleransi, yang kuliah pagi dipersilahkan mandi pagi, dan yang kuliah
siang ya dapat jatah mandi di akhir, tapi itu nggak masalah. Yah seperti inilah
manis pahitnya hidup di pesantren yang mampu mendewasakan aku.
Siang yang cukup panas,
selesai jam kuliah aku pulang meuju pesantren, disepanjang perjalanan aku
pandang wajah hari yang cukup panas. Sampai di pondok nggak ada kegiatan, dan ada
kesempatan untuk online atau chatingan. Sedikit syock
ketika ada seorang laki-laki yang ngirim inbox di aku, yang mengatakan
bahwa ia suka novel aku yang berjidul “Cinta Sang Santri”, yang
mengisahkan tentang seorang santriwati yang sangat intelektual yang membuat
peradaban baru tentang kehidupan. Ia merasa tertarik dengan novelku ini. Di
dalam pesan bawahnya juga ia berkata “ternyata seorang penulis novel cinta
sang santri begitu cantik dan anggun ya, salut dengan kecerdasan dan
kecantikan seorang penulis yang bernama Naila Syifa, nama yang begitu cantik seperti
orangnya, salam kenal dari Burhan, pengagum karyamu”. Rasa senang itu jelas
ada, karena masiih ada yang menyukai karyaku.
Setelah itu ia sering menghubungi aku, dan kadang minta solusi-solusi,
kadang ia juga curhat, karena ia adalah pelanggan karyaku, aku cukup percaya
sama dia, ketika ia minta nomer hp sama pin bbm, aku kasih aja. Siapa tau bisa
saling bertukar ilmu, toh sejauh aku berhubungan atau chatingan sama
dia, dia type laki-laki yang baik, sopan, dan bijak. Setelah seringnya
ia bercerita, ternyata ia seorang mahasiswa S2 jurusan filsafat, makanya bahasa
dia dalam berbicara cukup intelektual, dan cara pembawaannyapun cukup
berwibawa, kalo aku bisa nebak, dia laki-laki yang pandai dan cerdas.
Hingga begitu lamanya
kita saling berhubungan, yang awalnya ia hanyalah pengagum karyaku, sekarang
berputar arah menjadi pengagum ragaku. Ia sering kali mengejekku atau
menggodaku, begitu menyebalkan, tapi di balik itu dia manis. Aku sering di
panggil bu guru, karena menurutnya aku calon guru, padahal aku belum ngajar dan
masih semester 7 di bangku kuliah. Ia berulang kali ngajak aku ketemu, aku
menolak dengan berbagai cara dengan baik. “maaf mas burhan aku tidak bisa,
tugas dan kewajiban yang hendak aku kerjakan begitu banyak, ndak ada waktu
untuk bertemu”,balasan bbm dariku, dengan segera ia membalas “aku hanya
ingin mengungkapkan perasaanku yang sejauh ini aku pendam, aku hanya ingin
melampiaskan rasa rinduku dengan cara menemuimu bu nadia, jujur aku cinta sama
kamu, meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya, aku janji akan menerimamu
apa adanya”. Aku sedikit bingung dan takut. Terkadang aku berfikir, apakah
ini jawaban dari doa-doaku yang selama ini aku panjatkan di ujung sepertiga
malam??? Aku bingung sekali. Seketika
itu aku membalas bbmnya “maaf mas, sebelumnya panjenengan belum tau pasti
siapa saya, bukankah mencintai seseorang itu manakala kita sudah sama-sama
bertemu dan ketika itu baru kita memunculkan rasa cinta??, tapi kita beda, kita
sama-sama belum tau dan belum pernah mengenal sebelumnya”. Ia pun menjawab “dengan
cara apa supaya bu Naila percaya kalau aku benar-benar tulus?. Dengan tegas
aku menjawab “mas Burhan tak perlu temui aku untuk mencintaiku, tapi
temuilah ayah dan ibuku, bilanglah pada beliau jika mas burhan benar-benar cinta
sama naila, jika itu berhasil, jangan ungkapkan rasa cinta itu di depanku saja,
tapi ungkapkanlah rasa cinta itu di depan para saksi dan orang banyak melalui
qobiltu, bukan hanya I love you, jika mas burhan tak bisa melakukan itu, mas
burhan boleh meilih pergi meninggalkan aku, aku hanya tak ingin cinta yang
telah Allah berikan kepada kita mengandung madlorot”. ketika kita sama-sama
dibingungkan oleh cinta, dari situ kita bersepakat untuk bangun di sepertiga
malam untuk meminta petunjuk dari Allah. Meminta jalan sama Allah, karena kita
seorang insan yang di beri harapan cinta tanpa dipertemukan.
Sejauh aku belajar, aku
tak pernah mengerti apa itu cinta. Yang aku tahu cinta hanyalah interaksi
antara dua insan laki-laki dan perempuan yang saling memiliki ikatan perasaan
yang luarbiasa indahnya. Aku nggak tau apakah yang aku rasakan ini semacam
cinta atau tidak, jika iya, tolong
jagalah perasaan cintaku ya Allah, agar rasa cinta ini tidak melebihi rasa
cintaku kepada-Mu. Jika boleh jujur rasa cinta itu nggak hanya hadir di dalam
dirinya mas Burhan, tapi cinta itu hadir di dalam diriku juga, jika boleh jujur
lagi, aku merasakan kenyamanan luar bisa ketika aku berhubungan dengan mas
Burhan, meskipun hanya sekedar lewat jejaring sosial. Atau lewat di dunia maya,
aku merasa bahwa ia separuh jiwaku yang masih tersimpan. Ya Allah jika ia benar
separuh jiwa ini yang masih kau simpan tolong gabungkan separuh jiwa itu ya
Allah, namun jika ia bukan separuh jiwaku, biarkan ini menjadi kenangan belaka.
Itulah doaku di ujung sepertiga malamku.
hingga pagipun tiba,
aku dapat sms dari ayah yang tertulis bahwa aku disuruh pulang ayah karena ada
sesuatu yang sangat penting, kaget awalnya, sepenting apa acara itu hingga aku
harus pulang, tak seperti biasanya ayah
nyuruh aku pulang kalo nggak ada kegiatan yang sangat penting. Aku pun ijin
sama bu nyai untuk meminta izin pulang dan Alhamdulillah di kasih ijin.
Hingga samapi di
rumah, aku mencium tangan ayah dan ibu, dan bertanya, “ada apa ayah, kok ayah
menyuruh Nadia pulang mendadak, jangan bikin naila kaget ayah”. Ayahpun
menjawab dengan santai dan senyumnya “gini nduk, ayah dulu pernah bilang
bahwa Naila mutiaranya ayah yang harus dijaga, dan mutiara itu sudah saatnya
ayah berikan kepada seseorang yang lebih baik dan seseorang yang lebih bisa
menjaga mutiara ayah ini, ayah yakin, dengan bersama orang yang ayah pilih,
mutiara ayah akan jauh lebih indah”. Nadia sedikit bingung apa yang di
bicarakan ayah. Nadiapun menjawab “apa maksud ayah, naila nggak mengerti
ayah”. Ayah tersenyum dengan menjawab santai “ayah ingin menjodohkan
putri ayah denggan laki-laki calon dosen, sekarang dia masih kuliah sih, tapi
nanti kalo dia sudah wisuda pas banget sama putri ayah juga wisuda, jadi dia
dapat gelar S2, sedangkan nadia S1, dia laki-laki baik dan soleh, itu alasan
ayah menjodohkan kamu dengan dia”. Belum sampai aku menjawab, ayah nuturi
aku lagi “ya ayah sih ngga maksa nadia untuk suka dengan pilihan ayah,
karena ayah tau, orangtua yang baik itu orangtua yang tidak memaksa kehendak
anaknya, tapi anak yang baik adalah anak yang nurut dengan apa kehendak
orangtuanya”. Kata-kata ayah ini cukup menyindir aku supaya mau dengan
tawaran yang telah diberikan kepada ayah. Aku sedikit berfikir, karena apapun
yang terjadi aku dididik dan dibesarkan oleh ayah dan ibu, jadi mau tudak mau
aku harus nurut ayah ibu, karean letak kebahagiaanku ada diantara kebahagian
beliau.
Seiring berjalannya
waktu aku semakin bulat untuk menjatuhkan keputusan, bahwa aku memilih pilihan
ayah, yang menurut saya itu yang terbaik untuk ku. aku ngirim bbm mas burhan
dengan bermaksut tak ingin memberi harapan yang tak pasti pada mas Burhan, “Assalamualaikum
mas burhan, setelah kita sepakat berdoa di ujung sepertiga malam, kini aku
mengerti, inilah yang terbaik buat kita, kita tak mungkin bersatu, mungkin ini
cara Allah memisahkan kita (2 insan yang tak berjodoh). Ayah telah menjodohkan
aku dengan laki-laki lain, dan aku kira, aku nggak mungkin menolak tawaran ayah
yang selama ini sudah mendidik dan membesarkanku, aku harap mas burhan tau akan
keadaanku sekarang”. Mas burhan kecewa dengan kata-kata itu. Dan ternyata
juga mas burhan juga akan dijodohkan kepada seorang perempuan. Mas burhan
membalas bbm dariku “iya dik Naila, ini garis jalan hidup kita, mari kita
jalani hidup kita masing-masing, kalau jodoh pasti kita akan bersatu, ternyata
nasib kita sama, aku juga hendak di jodohkan dengan perempuan lain”.
Mendengar balasan dari mas burhan aku sedikit sakit hati, karena nggak bisa
bohong, aku juga sangat sayang sama mas Burhan, laki-laki yang baik dan
berwibawa serta cerdas dan soleh menurutku.
Setelah hari H
tiba, ibu menyiapkan makanan untuk tamu nanti malam, acara taaruf antar
keluarga yang hendak di jodohkan dengan aku. aku sedikit takut, takut dengan
laki-laki pilihan ayah yang nanti pada akhirnya tak sesuai dengan keinginanku.
Sorepun tiba, aku
bersiap-siap berdandan diri dengan karakter yang sederhana, karena aku memang
seorang perempuan yang tak terlalu suka sesuatu yang berlebihan termasuk dalam
menghias diri. Hingga malam tiba, tamau dari pihak laki-laki sudah datang. aku
mengintip dari ujung selambu, dengan wajah yang cukup cemas. Setelah itu aku
dipersilahkan keluar kamar, dan dijemput oleh ibu. Aku duduk di samping ayah
dan ibu. Laki-laki itu duduk di depan saya pas, dengan halangan meja di tengah.
Hatiku dek-dekan, setelah aku pandang ia, ternyata ia laki-laki yang gagah
tinggi dan tampan menurutku, ia pun juga memandangku malu. Setelah ayah
memperkenalkan aku dengan laki-laki itu, dengan ucapan ayah “nak, ini yang
bapak maksud, putri bapak yang bernama Naila Syifa yang baru kuliah semester 7,
dan nduk naila ini mas Burhan calon suamimu yang sedang proses S2 yang sering
ayah ceritakan, gimana kalian cocok? Jika iya, ayah akan menikahkan kalian
secepat mungkin, karena menunda kebaikan itu nggak boleh”. Nadia dan mas
Burhan sama-sama kaget dan syock, apakah ini laki-laki yang nadia maksud,
apakah ini mas burhan yang selama ini namanya selalu aku selipkan dalam doa-doaku
di ujung sepertiga malamku??? Apakah ini kuasanya Allah, apakah ini jawaban
atas doa-doaku di ujung sepertiga malamku??? Apakah Cinta itu bener-bener ada
dan nyata???, ketika itu nadia angkat bicara “apakah ini mas burhan
laki-laki yang sering chatingan sama Naila Syifa penulis novel Cinta Sang
Santri bukan?? apakah ini mas Burhan yang pernah bersepakat untuk bersujud di
ujung sepertiga malam bukan???” pertanyaan Nadia yang cukup tegas. Dengan
nada senang mas burhan menjawab “betul sekali dik Naila, ini mas Burhan… mungkin
inilah jawaban atas doa-doa kita”. Mas Burhan agak sedikit tak percaya
dengan keindahan yang datang pada waktunya. Ayahpun bingung ternyata kita sudah
saling kenal sebelumnya. Semakin yakin ayah ingin membuat acara pernikahan
kita.
Dan inilah akhirnya
mereka sudah menemukan separuh jiwanya yang selama ini tersimpan. Dua insan
yang saling mencintai tanpa saling mengetahui, dan inilah pertemuan pertama
yang membawa ia merasa berada di surga. Di ujung sepertiga malam Allah
menyatukan jiwa mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar