Rabu, 16 September 2015

Cinta di Ujung Sepertiga Malam



Cinta di Ujung Sepertiga Malam        
   Oleh: Bidayatul Hidayah   
       Pagi yang buta dengan kicauan burung yang berirama, dan suara adzan subuh yang berkumandan lembut mengajakku untuk membuka mata. Ku ambil air wudhu, dengan niat ku basuhkan di wajahku dengan berharap mendapatkan nur-Nya Allah di hari kiamat   . Pagi yang cerah di sambut segerombol santri dengan kitab yang dibawanya.  Sudah menjadi tradisi santri bangun subuh dengan segala aktivitas relijiusnya. Itu yang menjadi pembeda antara seorang santri dengan anak kost yang lain.
      Namaku Naila. Pemberian nama dari ayahku. Aku seorang mahasiswi sekaligus santri. Suatu keberuntungan aku berada di sini (pesantren). Tempat tinggal sementaraku di sebuah pesantren, sambil belajar formal di kampus. Pernah ingin merasakan nikmatnya tinggal dalam kost bersama teman-teman, dalam pikirku mungkin aku akan bisa bebas mencari jati diri ini, bebas seperti elang yang terbang kemana-mana. Aku sempat mengelak dengan tawaran orangtua yang diberikan kepadaku, tapi aku merasa bahwa aku tersesat, tersesat di jalan yang benar,  dan aku merasa terpenjara di sini, terpenjara dalam kebaikan. Dengan segala aktivitas yang teramat padat dan teramat ketat membuatku merasa terpenjara. Di balik itu 1000 hikmah membanjiri ragaku, manakala aku tahu sebuah kedisiplinan akan melatih kepribadian kita menjadi lebih baik, dan segala aktivitas yang padat membuatku merasa memiliki banyak aktivitas dan merasa tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Sekarang aku mengerti alasan orangtuaku. Masih teringat tutur kata ayah ketika tidak mengijinkan aku mendatangi pesta tahun baru pada malam hari, beliau berkata “nduk, menjaga dan mendidik anak perempuan itu bukanlah hal yang mudah, butuh keketatan untuk menjaga mutiara ayah ini”… kata-kata beliau cukup menghantam jiwa ini, setelah aku tahu begitu berharganya aku di mata ayahku hingga aku diibaratkan seperti mutiara, dari situ aku mulai menjaga diriku baik-baik, karena aku adalah mutiara.
       Meninggalkan ayah ibu dan adik adalah sesuatu yang sangat berat namun harus, tapi di sini aku menemukan keluarga baru. Merasakan hangatnya di tengah-tengah keluarga baru adalah hal yang paling menyenangkan, dimana aku mengadu nasib seperjuangan bersama teman-teman. Mbak Rina adalah temanku yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Aku belajar banyak dari sini, . Nikmat memang memiliki banyak teman, karena aku sepakat bahwa hidup sendiri itu bagaikan misteri yang suram. Aku belajar banyak hal dari teman-temanku, dia guruku sekaligus sahabatku, semua orang yang aku kenal adalah guruku, dan setiap peristiwa suka dan duka adalah ilmuku dan dunia ini adalah sekolah bagiku. Ku sikapi semua dengan senyuman, meskipun aku tahu dunia begitu kejam, terkadang pahitnya hidup mampu diimbangi oleh manisnya cinta. Dan bersyukur adalah satu-satunya caraku untuk menikmati hidup ini. Kesederhanaanlah yang telah mengajariku untuk tetap bertahan dan mensyukuri apa yang ada di hadapanku, dan apa yang ada di hariku.
     Di kampus aku tidak aktif di organisasi, aku cukup aktif di edukasi. Lia teman kampusku bertanya kepadaku “Naila, kenapa kamu lebih tertarik di edukasi daripada di organisasi lain dan semacam LPM debat wacana gittu???” aku tersenyum, dan jawabku cukup singkat “aku ndak suka banyak bicara tapi suka banyak berfikir Lia… dan fikiranku aku ceritakan melalui tulisan”. Aku sadar, karena aku merasa organisasi atau debat wacana tak cocok dengan karakterku yang pendiam dan pemalu, aku sadar itu. Aku memiliki beberapa puisi artikel novel dan karya ilmiah lainnya yang aku posting di akun media sosial. Alhamdulillah, tak menyangka pula banyak yang menjadi pengikut akun di sosmedku. Sebelum aku memosting tulisanku di media sosial, mbak Rina lah yang sering aku jadikan korban sebagai pembaca pertama tulisanku sebelum aku posting ke media. “bagus naila, segera di posting, salut sama isi tulisan kamu” sering kali mbak Rina ngomong kaya gitu sehabis baca tulisanku.
      Tak kalah sibuknya dengan kegiatan di kampus. Justru di pesantrenlah yang menambah kepadatan aktivitasku. Subuh ngaji, pagi siang kuliah, sore hafalan, malam ngaji lagi, hanya memiliki waktu sedikit saja untuk istirahat. Ini yang membuatku untuk menghargai waktu. Aku meningkatkan ilmu sepiritualku di sini (pesantren). Di mana aku belajar meningkatkan kualitas ibadah yang sebelumnya begitu awam dan datar, meningkatkan mutu ahlak diri, yang sebelumnya biasa-biasa saja.
       Subuh berkumandang, “dek, bangun…. Jamaah….”, seru mbak Rina yang selalu setia membangunkan aku kala subuh, dan itu dilakukan ia secara rutin tanpa ada rasa bosan. Ini menunjukkan bahwa aku tak cukup dewasa, masih belum bisa memenej diri untuk bangun pada waktunya. Nah dari sini aku belajar. Seperti biasanya, sehabis jamaah subuh, ada kegiatan ngaji bareng kajian kitab yang dibimbing oleh seorang ustad, dan sesuai jadwalnya juga sesuai kitabnya. Sehabis ngaji subuh, anak-anak pada antri mandi untuk kuliah, “yah…. Budaya ngantri itu berlaku dimana-mana, nggak hanya di halte” pikirku dalam hati. Sehabis naruh kitab anak-anak pada berteriakan, “aku yang mandi pertama”, terus ada lagi yang nyahut “aku habisnya mbak”, terus ada yang nyahut lagi “mbak habismu aku ya??” . terkadang aku tersenyum dari kamar mendengar anak-anak berlomba-lomba antri mandi. Dan yang paling aku suka dari teman-teman adalah ia saling bertoleransi, yang kuliah pagi dipersilahkan mandi pagi, dan yang kuliah siang ya dapat jatah mandi di akhir, tapi itu nggak masalah. Yah seperti inilah manis pahitnya hidup di pesantren yang mampu mendewasakan aku.
      Siang yang cukup panas, selesai jam kuliah aku pulang meuju pesantren, disepanjang perjalanan aku pandang wajah hari yang cukup panas. Sampai di pondok nggak ada kegiatan, dan ada kesempatan untuk online atau chatingan. Sedikit syock ketika ada seorang laki-laki yang ngirim inbox di aku, yang mengatakan bahwa ia suka novel aku yang berjidul “Cinta Sang Santri”, yang mengisahkan tentang seorang santriwati yang sangat intelektual yang membuat peradaban baru tentang kehidupan. Ia merasa tertarik dengan novelku ini. Di dalam pesan bawahnya juga ia berkata “ternyata seorang penulis novel cinta sang santri begitu cantik dan anggun ya, salut dengan kecerdasan dan kecantikan seorang penulis yang bernama Naila Syifa, nama yang begitu cantik seperti orangnya, salam kenal dari Burhan, pengagum karyamu”. Rasa senang itu jelas ada, karena masiih ada yang menyukai karyaku.  Setelah itu ia sering menghubungi aku, dan kadang minta solusi-solusi, kadang ia juga curhat, karena ia adalah pelanggan karyaku, aku cukup percaya sama dia, ketika ia minta nomer hp sama pin bbm, aku kasih aja. Siapa tau bisa saling bertukar ilmu, toh sejauh aku berhubungan atau chatingan sama dia, dia type laki-laki yang baik, sopan, dan bijak. Setelah seringnya ia bercerita, ternyata ia seorang mahasiswa S2 jurusan filsafat, makanya bahasa dia dalam berbicara cukup intelektual, dan cara pembawaannyapun cukup berwibawa, kalo aku bisa nebak, dia laki-laki yang pandai dan cerdas.
        Hingga begitu lamanya kita saling berhubungan, yang awalnya ia hanyalah pengagum karyaku, sekarang berputar arah menjadi pengagum ragaku. Ia sering kali mengejekku atau menggodaku, begitu menyebalkan, tapi di balik itu dia manis. Aku sering di panggil bu guru, karena menurutnya aku calon guru, padahal aku belum ngajar dan masih semester 7 di bangku kuliah. Ia berulang kali ngajak aku ketemu, aku menolak dengan berbagai cara dengan baik. “maaf mas burhan aku tidak bisa, tugas dan kewajiban yang hendak aku kerjakan begitu banyak, ndak ada waktu untuk bertemu”,balasan bbm dariku, dengan segera ia membalas “aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku yang sejauh ini aku pendam, aku hanya ingin melampiaskan rasa rinduku dengan cara menemuimu bu nadia, jujur aku cinta sama kamu, meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya, aku janji akan menerimamu apa adanya”. Aku sedikit bingung dan takut. Terkadang aku berfikir, apakah ini jawaban dari doa-doaku yang selama ini aku panjatkan di ujung sepertiga malam??? Aku bingung sekali.  Seketika itu aku membalas bbmnya “maaf mas, sebelumnya panjenengan belum tau pasti siapa saya, bukankah mencintai seseorang itu manakala kita sudah sama-sama bertemu dan ketika itu baru kita memunculkan rasa cinta??, tapi kita beda, kita sama-sama belum tau dan belum pernah mengenal sebelumnya”. Ia pun menjawab “dengan cara apa supaya bu Naila percaya kalau aku benar-benar tulus?. Dengan tegas aku menjawab “mas Burhan tak perlu temui aku untuk mencintaiku, tapi temuilah ayah dan ibuku, bilanglah pada beliau jika mas burhan benar-benar cinta sama naila, jika itu berhasil, jangan ungkapkan rasa cinta itu di depanku saja, tapi ungkapkanlah rasa cinta itu di depan para saksi dan orang banyak melalui qobiltu, bukan hanya I love you, jika mas burhan tak bisa melakukan itu, mas burhan boleh meilih pergi meninggalkan aku, aku hanya tak ingin cinta yang telah Allah berikan kepada kita mengandung madlorot”. ketika kita sama-sama dibingungkan oleh cinta, dari situ kita bersepakat untuk bangun di sepertiga malam untuk meminta petunjuk dari Allah. Meminta jalan sama Allah, karena kita seorang insan yang di beri harapan cinta tanpa dipertemukan.
     Sejauh aku belajar, aku tak pernah mengerti apa itu cinta. Yang aku tahu cinta hanyalah interaksi antara dua insan laki-laki dan perempuan yang saling memiliki ikatan perasaan yang luarbiasa indahnya. Aku nggak tau apakah yang aku rasakan ini semacam cinta atau tidak, jika iya,  tolong jagalah perasaan cintaku ya Allah, agar rasa cinta ini tidak melebihi rasa cintaku kepada-Mu. Jika boleh jujur rasa cinta itu nggak hanya hadir di dalam dirinya mas Burhan, tapi cinta itu hadir di dalam diriku juga, jika boleh jujur lagi, aku merasakan kenyamanan luar bisa ketika aku berhubungan dengan mas Burhan, meskipun hanya sekedar lewat jejaring sosial. Atau lewat di dunia maya, aku merasa bahwa ia separuh jiwaku yang masih tersimpan. Ya Allah jika ia benar separuh jiwa ini yang masih kau simpan tolong gabungkan separuh jiwa itu ya Allah, namun jika ia bukan separuh jiwaku, biarkan ini menjadi kenangan belaka. Itulah doaku di ujung sepertiga malamku.
         hingga pagipun tiba, aku dapat sms dari ayah yang tertulis bahwa aku disuruh pulang ayah karena ada sesuatu yang sangat penting, kaget awalnya, sepenting apa acara itu hingga aku harus  pulang, tak seperti biasanya ayah nyuruh aku pulang kalo nggak ada kegiatan yang sangat penting. Aku pun ijin sama bu nyai untuk meminta izin pulang dan Alhamdulillah di kasih ijin.
         Hingga samapi di rumah, aku mencium tangan ayah dan ibu, dan bertanya, “ada apa ayah, kok ayah menyuruh Nadia pulang mendadak, jangan bikin naila kaget ayah”. Ayahpun menjawab dengan santai dan senyumnya “gini nduk, ayah dulu pernah bilang bahwa Naila mutiaranya ayah yang harus dijaga, dan mutiara itu sudah saatnya ayah berikan kepada seseorang yang lebih baik dan seseorang yang lebih bisa menjaga mutiara ayah ini, ayah yakin, dengan bersama orang yang ayah pilih, mutiara ayah akan jauh lebih indah”. Nadia sedikit bingung apa yang di bicarakan ayah. Nadiapun menjawab “apa maksud ayah, naila nggak mengerti ayah”. Ayah tersenyum dengan menjawab santai “ayah ingin menjodohkan putri ayah denggan laki-laki calon dosen, sekarang dia masih kuliah sih, tapi nanti kalo dia sudah wisuda pas banget sama putri ayah juga wisuda, jadi dia dapat gelar S2, sedangkan nadia S1, dia laki-laki baik dan soleh, itu alasan ayah menjodohkan kamu dengan dia”. Belum sampai aku menjawab, ayah nuturi aku lagi “ya ayah sih ngga maksa nadia untuk suka dengan pilihan ayah, karena ayah tau, orangtua yang baik itu orangtua yang tidak memaksa kehendak anaknya, tapi anak yang baik adalah anak yang nurut dengan apa kehendak orangtuanya”. Kata-kata ayah ini cukup menyindir aku supaya mau dengan tawaran yang telah diberikan kepada ayah. Aku sedikit berfikir, karena apapun yang terjadi aku dididik dan dibesarkan oleh ayah dan ibu, jadi mau tudak mau aku harus nurut ayah ibu, karean letak kebahagiaanku ada diantara kebahagian beliau.
      Seiring berjalannya waktu aku semakin bulat untuk menjatuhkan keputusan, bahwa aku memilih pilihan ayah, yang menurut saya itu yang terbaik untuk ku. aku ngirim bbm mas burhan dengan bermaksut tak ingin memberi harapan yang tak pasti pada mas Burhan, “Assalamualaikum mas burhan, setelah kita sepakat berdoa di ujung sepertiga malam, kini aku mengerti, inilah yang terbaik buat kita, kita tak mungkin bersatu, mungkin ini cara Allah memisahkan kita (2 insan yang tak berjodoh). Ayah telah menjodohkan aku dengan laki-laki lain, dan aku kira, aku nggak mungkin menolak tawaran ayah yang selama ini sudah mendidik dan membesarkanku, aku harap mas burhan tau akan keadaanku sekarang”. Mas burhan kecewa dengan kata-kata itu. Dan ternyata juga mas burhan juga akan dijodohkan kepada seorang perempuan. Mas burhan membalas bbm dariku “iya dik Naila, ini garis jalan hidup kita, mari kita jalani hidup kita masing-masing, kalau jodoh pasti kita akan bersatu, ternyata nasib kita sama, aku juga hendak di jodohkan dengan perempuan lain”. Mendengar balasan dari mas burhan aku sedikit sakit hati, karena nggak bisa bohong, aku juga sangat sayang sama mas Burhan, laki-laki yang baik dan berwibawa serta cerdas dan soleh menurutku.
          Setelah hari H tiba, ibu menyiapkan makanan untuk tamu nanti malam, acara taaruf antar keluarga yang hendak di jodohkan dengan aku. aku sedikit takut, takut dengan laki-laki pilihan ayah yang nanti pada akhirnya tak sesuai dengan keinginanku.
        Sorepun tiba, aku bersiap-siap berdandan diri dengan karakter yang sederhana, karena aku memang seorang perempuan yang tak terlalu suka sesuatu yang berlebihan termasuk dalam menghias diri. Hingga malam tiba, tamau dari pihak laki-laki sudah datang. aku mengintip dari ujung selambu, dengan wajah yang cukup cemas. Setelah itu aku dipersilahkan keluar kamar, dan dijemput oleh ibu. Aku duduk di samping ayah dan ibu. Laki-laki itu duduk di depan saya pas, dengan halangan meja di tengah. Hatiku dek-dekan, setelah aku pandang ia, ternyata ia laki-laki yang gagah tinggi dan tampan menurutku, ia pun juga memandangku malu. Setelah ayah memperkenalkan aku dengan laki-laki itu, dengan ucapan ayah “nak, ini yang bapak maksud, putri bapak yang bernama Naila Syifa yang baru kuliah semester 7, dan nduk naila ini mas Burhan calon suamimu yang sedang proses S2 yang sering ayah ceritakan, gimana kalian cocok? Jika iya, ayah akan menikahkan kalian secepat mungkin, karena menunda kebaikan itu nggak boleh”. Nadia dan mas Burhan sama-sama kaget dan syock, apakah ini laki-laki yang nadia maksud, apakah ini mas burhan yang selama ini namanya selalu aku selipkan dalam doa-doaku di ujung sepertiga malamku??? Apakah ini kuasanya Allah, apakah ini jawaban atas doa-doaku di ujung sepertiga malamku??? Apakah Cinta itu bener-bener ada dan nyata???, ketika itu nadia angkat bicara “apakah ini mas burhan laki-laki yang sering chatingan sama Naila Syifa penulis novel Cinta Sang Santri bukan?? apakah ini mas Burhan yang pernah bersepakat untuk bersujud di ujung sepertiga malam bukan???” pertanyaan Nadia yang cukup tegas. Dengan nada senang mas burhan menjawab “betul sekali dik Naila, ini mas Burhan… mungkin inilah jawaban atas doa-doa kita”. Mas Burhan agak sedikit tak percaya dengan keindahan yang datang pada waktunya. Ayahpun bingung ternyata kita sudah saling kenal sebelumnya. Semakin yakin ayah ingin membuat acara pernikahan kita.
     Dan inilah akhirnya mereka sudah menemukan separuh jiwanya yang selama ini tersimpan. Dua insan yang saling mencintai tanpa saling mengetahui, dan inilah pertemuan pertama yang membawa ia merasa berada di surga. Di ujung sepertiga malam Allah menyatukan jiwa mereka.
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar