Assalamualaikum...
ucapan salamku untuk para pembaca yang baik hatinya…
Tak tahu
mulai dari mana saya hendak bercerita, tak perlu sebutin nama. Dan saya sekarang
lagi menginjak semester lima di salah satu perguruan tinggi Islam Negeri dan
sedang mengambil jurusan Manajemen Pendidikan. Mengkin sekian dari perkenalan
saya.
Saya hendak berbagi pengalaman tentang
kisah cinta saya bersama sang Abdi Negara.
Bagiku mencintai dan dicintai adalah hal yang wajar, tapi kali ini… bagiku
mencintainya adalah suatu tantangan baru. Dimana saya harus memasuki dunia
militer yang saya sendiripun masih awam dengan hal itu. Bisa saya simpulkan
bahwa mencintainya dan mendampinginya adalah sebuah perjuangan. Berjuang melawan
cobaan, seperti jarak dan sifat egois masing-masing, perbedaan pendapat selalu
mewarnai perjalanan cinta kita.
Saya sendiri sedikit tak mengerti tentang pertemuan
yang tak sengaja ini, apakah ini hanyalah suatu kebetulan atau memang ini sudah
rencana indah Tuhan. Pertemuan yang tak
pernah saya kira sebelumnya, molai semester satu kita sudah sama-sama saling
berkomitmen untuk di satu hati, bagiku cukup banyak cobaan menghadapinya.
Ketika ditengah perjalanan cinta kita, ada sedikit hambatan, yaitu tepat hari
sabtu saya sedang sibuk mengikuti seminar di kampus, seperti biasa abang tak
pernah lupa mengingatkan saya makan, solat dan istirahat. Saya senang, setiap
hari orang yang saya sayang selalu ngasih kabar meskipun abang sendiri dalam
keadaan sibuk dengan dines dan segala aktivitasnya. Sehabis pulang seminar
abang nggak ada kabar, biasanya minimal sehari abang telpon saya dua kali dan
sms tiga kali, tapi kali ini beda, sehabis pulang seminar abang nggak ada kabar
dan sampai larut malam saya menunggu balasan sms darinya, saya sempat punya
keinginan untuk menelponnya, tapi saya takut ganggu aktivitasnya, saya hanya
berkhusnudzan sama abang dan berdoa
semoga hatinya di tetapkan oleh Allah. Tapi sayang sekali perasangka baikku
berputar arah, tengah malam tepat jam 01.30 saya dapat sms dari abang, yang
bertuliskan “dik, mending kita akhiri hunungan ini, adik solat istikhoroh
aja, kalau kita jodoh pasti bertemu lagi” coba bayangkan, wanita mana yang
tak rapuh membaca sms demikian dari laki-laki yang teramat di cintainya??. Rasa
panas di hati dan sesak di dada, membuatku tak bisa tidur sampai subuh tiba,
ada apa dengan orang yang aku sayang?. Apa yang telah terjadi?. Saya yakin itu bukan abang sendiri yang sms.
Tapi dengan seribu luka, saya mencoba pergi dan mengakhiri hubungan itu, saya
tak mau lagi mendengarkan penjelasan apapun dari abang. Saya blokir fb.nya saya hapus semua
foto-fotonya. Kalau tidak salah Saya dan abang mulai jadian bulan febuari dan
mengakhiri hubungan di bulan juni sebelum ulangtahun saya. Hanya bertahan lima
bulan saja hubungan saya dengan abang.
Setelah sekian lama abang tak ada
kabar, tepat bulan desember 2014, abang molai menghubungi saya lagi, dia mulai
ngejar-ngejar saya lagi. Saya sempat teguh pada pendiran dan sempat janji tidak
akan menghubunginya lagi, dia mohon-mohon sama saya untuk mengulang kembali
hubungan kita dari nol, saya mencoba menutup telinga dan saya nggak akan
mengulangi kesalahan yang sama. Waktu itu saya bilang, lebih baik kita berteman
saja abang, daripada kita sama-sama terluka.
Tapi abang mengelak dan bilang, “jangan jadikan masalalu sebagai
pengingat, buat masalalu sebagai pelajaran dan kita harus mengambil hikmah dari
masalalu, abang janji abang tak akan mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya,
dulu ada kesalah pahaman yang gagal aku jelaskan hanya karena emosimu yang tak
setabil”. Dan saya tetap teguh pada pendirian untuk tidak menerima cinta
abang lagi, abang masih saja tidak berhenti berusaha, dan seiring berjalannya
waktu, hati saya di buat luluh oleh sikap sabarnya abang menghadapiku. Saya
kira dia memang benar-benar ingin mengulang kembali dari nol bersamaku, abang
juga perah bilang “ayo kita sukses bersama, kita sama-sama awali hubungan
ini dari nol, abang akan menggandengmu molai dari nol” kata-kata yang
keluar dari mulut abang saya kira tidak sedang bermain-main saja, selama satu
bulan abang mencoba meyakinkan saya kalo abang benar-benar serius sama saya.
Saya mencoba buka hati saya, dan menerima kembali cinta abang, dan Alhamdulillah
sampai detik ini, hubungan saya dengan abang baik-baik saja meskipun
kadang-kadang sering berantem-berantem nggak jelas, bagiku itu bumbunya cinta.
Kita jadian lagi molai bulan desember, sampai sekarang bulan juli, sudah
delapan bulan lamaya, Alhamdulillah, semoga tak ada cobaan-cobaan lain lagi
yang mengganggu. Sekarang saya percaya sama abang, dan semoga tak ada liku-liku
yang hadir, sekarang saya fokus di study S1,ku, dan abang juga fokus sama
kerjanya, seperti janji abang yang setia menggandeng saya dalam meniti karir,
dan menggali ilmu,. Tugas saya saat ini hanyalah belajar, dan abang untuk
sementara hanya saya jadikan sebuah motivasi. Biar tidak mengganggu belajar
saya, dan Untuk nanti kedepannya itu
urusan Allah, jodoh tetap di tangan-Nya. Saya dan abang sebagai hamba hanya
berikhtiar untuk menjadi apa yang kita mau.
Stiap apapun jalannya, baik itu mulus
ataupun terjal, baik itu indah maupun duka, percayalah Tuhan selalu mempunyai
rencana indah. Karena Tuhan adalah sebaik-baiknya sutradara dalam sekinario
hidup kita. Dan sejauh apapun jarak, bukan halangan untuk bisa saling mencintai
dan men menjaga hati. Jarak hanyalah sebagian kecil dari ujian yang dengan
jarak tersebut justru kita dilatih untuk saling bertahan dan berjuang.
Cinta abang memang tak pernah diumbar.
Bahkan untuk berkata manispun jarang
abang lakukan. Bagiku itu bukanlah hal yang penting, jika kita sudah sama-sama
tahu hati ini milik siapa dan akan kembali kemana.
Cerita ini sungguh unik, cerita cinta
bersama sang militer yang luar biasa, luar biasa kangennya, luar biasa
sabarnya, luar biasa tegarnya dan luar biasa ikhlasnya, karean secara tidak
langsung ini sebuah pendidikan mental yang abang berikan kepada saya. Karena
abang ingin saya menjadi wanita yang hebat dan kuat saat aku mendampinginya
kelak.
Berharap semuanya akan baik-baik saja…..
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar