Minggu, 06 Juli 2014

Autobiografi Bida



      Alhamdulillah…
 Kata hamdalah yang selalu saya ucapkan karena rasa sukur saya atas nikmat yang telah Allah berikan kepada saya hingga sampai saat ini dan detik ini juga saya masih mampu untuk bernafas lega. Tak lupa pula bacaan Basmalah yang pertama saya ucapkan karena saya selalu ingat sebuah dalil yang artinya Tiap urusan penting yang berharga akan menjadi putus barokahnya jika tidak dimulai dengan Bismillah”.
     
       Nama lengkap saya Bidayatul Hidayah, pemberian nama dari Ayah saya yang diambil dari sebuah kitab karangan Abu Hamid Muhammad Al-ghazali yang membahas tentang 3 ajaran, yaitu: 1)Membahas tentang adab-adab ketaatan 2)Tentang meninggalkan maksiat 3)Tentang cara bergaul dengan manusia, Sang Maha pencipta, dan sesama makhluk. Teman-teman biasa memanggil saya Bida. Saya anak pertama dari pasangan suami istri yang bernama Ansori dan Sumi’ah. Saya memiliki 3 saudara yang bernama Ulfatun Ni’mah (kelas 2 MTs), Indana Zulfa (kelas 3 SD), dan yang terakhir yang paling cakep sendiri M.Iqbal Fahmi (TK nol besar). Pendidikan yang pertamakali saya injak yaitu TPQ Al-Jihad Jekulo Kidul (karena menurut ayah saya pendidikan relijius itu yang pertama dan diutamakan) itulah alasan Ayah saya mengenalkan pendidikan Islam yang pertamakalinya kepada anaknya. Setelah itu saya masuk di SDN 6 Jekulo Kidul (bagaimanapun juga pendidikan umum juga tidak kalah pentingnya kata ayah saya). Tamat SD saya langsung lanjut ke sebuah pendidikan swsta yaitu MTs.NU.Nurul Ulum Jekulo dan lanjud di MA.NU.Nurul Ulum Jekulo yayasan seorang tokoh masyarakat ulama besar KH.Ahmad Basyir (almarhum). Dan Alhamdulillah perjalanan pendidikan saya tidak hanya sampai berhenti disini saja, Allah memberikan kesempatan lebih untuk saya. Lulus dari MA.NU.Nurul Ulum saya lanjut studi di IAIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Kependidikan Islam/ Manajemen Pendidikan Islam di Fakultas Ilmu Tarbiyah Keguruan. saya dulu sama sekali tidak mengerti apa itu jurusan Manajemen Pendidikan Islam, karena saya keterimanya disitu, tetapi setelah saya mengikuti perkuliahan dan mencoba memahami apa itu ilmu manajemen, dan ternyata enak sekali, saya tidak hanya belajar memenej sesuatu yang berbau pendidikan, akan tetapi saya juga belajar memenej hati dan pikiran saya untuk tetap berusaha keras dan istiqomah dalam mengejar cita-cita. Berbicara soal mimpi mungkin saya adalah orang yang memiliki mimpi yang paling tinggi, dan berbicara soal cita-cita, saya adalah orang yang memiliki segudang cita-cita. Berhasil atau tidaknya mimpi dan cita-cita saya, itu semua kehendak Yang Maha kuasa, kewajibanku hanya belajar,berdoa, dan berusaha.
     
           Saya terlahir dari keluarga sederhana, tetapi itu tidak menghalangi langkah saya untuk terus mengejar cita-cita, terinspirasi dari kata-katanya pak Rikza bahwa “miskin boleh tapi sukses itu harus”. Ayah saya menjadi tulang punggung di keluarga saya, yang menghidupi 4 anak yang semuanya membutuhkan makan dan pendidikan. Itu bukanlah hal yang enteng, juga bukan hal yang mudah, tapi semangat beliau mengalahkan segala hal, rasa tanggung jawabnya begitu besar. Keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya begitu kuat. Ibuku hanyalah sekedar ibu rumah tangga, beliau berperan sebagai pengasuh adik-adikku yang masih kecil, mengurusi urusan rumahtangga, dan mendidik anak-anaknya. Sudah jelas sekali bahwa bapakku mencari nafkah, dan ibuku mengurus dan mendidik anak-anaknya. Ayah saya selalu berusaha memberikan fasilitas pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Karena pendidikan adalah prioritas utama bagi Ayah saya. Beliau pernah berkata bahwa beliau tidak mampu mewarisi harta untuk anak-anaknya tapi beliau hanya bisa mendidik atau memberi ilmu untuk anak-anaknya, itulah sebabnya sebisa mungkin ayah saya menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.

        salah satu cita-cita saya adalah selepas kuliah saya ingin menjadi orang yang sukses dan mengangkat adik-adik saya untuk lanjud sekolah yang lebih tinggi dan mengangkat derajat kedua orangtua saya dan membahagiakannya. Biarkan masa tua menjadi surganya kedua orangtuaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar