Alhamdulillah…
Kata hamdalah
yang selalu saya ucapkan karena rasa sukur saya atas nikmat yang telah
Allah berikan kepada saya hingga sampai saat ini dan detik ini juga saya masih
mampu untuk bernafas lega. Tak lupa pula bacaan Basmalah yang pertama saya ucapkan karena saya selalu ingat sebuah
dalil yang artinya “Tiap urusan penting yang berharga akan menjadi putus barokahnya jika
tidak dimulai dengan Bismillah”.
Nama lengkap saya Bidayatul Hidayah, pemberian
nama dari Ayah saya yang diambil dari sebuah kitab karangan Abu Hamid Muhammad
Al-ghazali yang membahas tentang 3 ajaran, yaitu: 1)Membahas tentang adab-adab
ketaatan 2)Tentang meninggalkan maksiat 3)Tentang cara bergaul dengan manusia,
Sang Maha pencipta, dan sesama makhluk. Teman-teman biasa memanggil saya Bida.
Saya anak pertama dari pasangan suami istri yang bernama Ansori dan Sumi’ah. Saya
memiliki 3 saudara yang bernama Ulfatun Ni’mah (kelas 2 MTs), Indana Zulfa
(kelas 3 SD), dan yang terakhir yang paling cakep sendiri M.Iqbal Fahmi (TK nol
besar). Pendidikan yang pertamakali saya injak yaitu TPQ Al-Jihad Jekulo Kidul
(karena menurut ayah saya pendidikan relijius itu yang pertama dan diutamakan)
itulah alasan Ayah saya mengenalkan pendidikan Islam yang pertamakalinya kepada
anaknya. Setelah itu saya masuk di SDN 6 Jekulo Kidul (bagaimanapun juga
pendidikan umum juga tidak kalah pentingnya kata ayah saya). Tamat SD saya
langsung lanjut ke sebuah pendidikan swsta yaitu MTs.NU.Nurul Ulum Jekulo dan
lanjud di MA.NU.Nurul Ulum Jekulo yayasan seorang tokoh masyarakat ulama besar
KH.Ahmad Basyir (almarhum). Dan Alhamdulillah perjalanan pendidikan saya tidak
hanya sampai berhenti disini saja, Allah memberikan kesempatan lebih untuk
saya. Lulus dari MA.NU.Nurul Ulum saya lanjut studi di IAIN Walisongo Semarang,
mengambil jurusan Kependidikan Islam/ Manajemen Pendidikan Islam di Fakultas
Ilmu Tarbiyah Keguruan. saya dulu sama sekali tidak mengerti apa itu jurusan
Manajemen Pendidikan Islam, karena saya keterimanya disitu, tetapi setelah saya
mengikuti perkuliahan dan mencoba memahami apa itu ilmu manajemen, dan ternyata
enak sekali, saya tidak hanya belajar memenej sesuatu yang berbau pendidikan,
akan tetapi saya juga belajar memenej hati dan pikiran saya untuk tetap
berusaha keras dan istiqomah dalam mengejar cita-cita. Berbicara soal mimpi
mungkin saya adalah orang yang memiliki mimpi yang paling tinggi, dan berbicara
soal cita-cita, saya adalah orang yang memiliki segudang cita-cita. Berhasil
atau tidaknya mimpi dan cita-cita saya, itu semua kehendak Yang Maha kuasa,
kewajibanku hanya belajar,berdoa, dan berusaha.
Saya terlahir dari keluarga
sederhana, tetapi itu tidak menghalangi langkah saya untuk terus mengejar
cita-cita, terinspirasi dari kata-katanya pak Rikza bahwa “miskin boleh tapi
sukses itu harus”. Ayah saya menjadi tulang punggung di keluarga saya, yang
menghidupi 4 anak yang semuanya membutuhkan makan dan pendidikan. Itu bukanlah hal
yang enteng, juga bukan hal yang mudah, tapi semangat beliau mengalahkan segala
hal, rasa tanggung jawabnya begitu besar. Keinginan untuk menyekolahkan
anak-anaknya begitu kuat. Ibuku hanyalah sekedar ibu rumah tangga, beliau
berperan sebagai pengasuh adik-adikku yang masih kecil, mengurusi urusan
rumahtangga, dan mendidik anak-anaknya. Sudah jelas sekali bahwa bapakku
mencari nafkah, dan ibuku mengurus dan mendidik anak-anaknya. Ayah saya selalu
berusaha memberikan fasilitas pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Karena
pendidikan adalah prioritas utama bagi Ayah saya. Beliau pernah berkata bahwa
beliau tidak mampu mewarisi harta untuk anak-anaknya tapi beliau hanya bisa
mendidik atau memberi ilmu untuk anak-anaknya, itulah sebabnya sebisa mungkin
ayah saya menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar