Satu-satunya alternatif untuk
menata dunia adalah Islam, karena islam terbukti memiliki karakter yang berbeda
dari agama-agama lain di dunia ini. Dan salah satunya negara terbesar pemeluk
Agama Islam adalah Indonesia. Perkembangan pendidikan nasional Indonesia
sekitar akhir abad XX memberi peluang cukup bagus terhadap pendidikan Islam.
Ini terbukti bahwa sejarah kerajaan di Indonesia saat masuknya penjajahan nusantara,
pendidikan agama merupakan tulang punggung pendidikan pada masanya. Salah
satunya adalah pondok pesantren yang merupakan salah satu sistem pendidikan
paling modern saat itu. Sebagian besar pahlawan-pahlawan kita dahulu adalah ulama-ulama
besar atau para kiai.
Lahirnya Orde Baru, membuka kesadaran
bangsa Indonesia akan pentingnya pendidikan agama. Karena itu filsafah
pendidikan nasional mulai mengarah kepada pandangan yang bersifat humanisme
teistik. Sifat tersebut sesuai dengan sifat bangsa Indonesia yang bercorak
sosialistik religius, berdasarkan Pancasila. Dan filsafah ini melahirkan
rumusan tujuan pendidikan Nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya , yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (
UU No.2 Tahun 1989 Bab II, p.4). Dan
di antara keputusan politik dalam pendekatan sistematik yang menyangkut
pendidikan Islam adalah masuknya pendidikan Islam debagai sub sistem dalam
sistem pendidikan Nasional. Oleh karena, itu harus diupayakan agar semua
kegiatan dan kelembagaan pendidikan Islam dapat di masukkan ke dalam sistem nasional
ini. Namun jika pendidikan Islam menempatkan dirinya di luar sistem Nasional
tersebut, maka akan mengakibatkan terisolasi dari peraturan politik, dan
berarti ia kehilangan peluang untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Salah satu
lembaga pendidikan Islam yang belum masuk ke dalam sistem pendidikan nasional
adalah pondok pesantren. Padahal pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan
tertua di Indonesia yang berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa jauh sebelum
kebangkitan Nasional. Pada masa
revolusi, pondok pesantren merupakan
basis perlawanan terhadap penjajah yang terbukti telah berhasil menumbuhkan
semangat patriotisme tanpa kenal kompromi. Posisi pondok pesantren yang berada
di luar sistem pendidikan nasional ini mengakibatkan lemahnya sentuhan tenaga
terampil, minimnya dana serta terbatasnya ruang gerak para alumni untuk ikut
mewarnai sektor formal dalam jajaran politik nasional. Justru yang paling
banyak memperoleh peluang dari pendidikan Islam adalah sekolah-sekolah akademik
dan profesional yang diselenggarakan oleh umat Isalm.
Tujuan pendidikan yaitu membentuk
manusia yang cerdas dan terampil serta memiliki kepribadian yang mampu
mendukung pembangunan Nasional. Esensi
ilmu terletak pada rasionalisme kritis, esensi teknologi pada efektifitas dan
efesiensi yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Sedangkan esensi ilmu
keagamaan terletak pada kemampuannya untuk mengembangkan manusia agar menjadi
manusia beriaman dan bertaqwa yang sungguh-sungguh sehingga dapat tampil
sebagai kholifatullah fil’ard yang dapat mewujudkan rahmatan
lil’alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar