Minggu, 06 Juli 2014

Paradigma Pendidikan Islam



               Satu-satunya alternatif untuk menata dunia adalah Islam, karena islam terbukti memiliki karakter yang berbeda dari agama-agama lain di dunia ini. Dan salah satunya negara terbesar pemeluk Agama Islam adalah Indonesia. Perkembangan pendidikan nasional Indonesia sekitar akhir abad XX memberi peluang cukup bagus terhadap pendidikan Islam. Ini terbukti bahwa sejarah kerajaan di Indonesia saat masuknya penjajahan nusantara, pendidikan agama merupakan tulang punggung pendidikan pada masanya. Salah satunya adalah pondok pesantren yang merupakan salah satu sistem pendidikan paling modern saat itu. Sebagian besar pahlawan-pahlawan kita dahulu adalah ulama-ulama besar atau para kiai.
         Lahirnya Orde Baru, membuka kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya pendidikan agama. Karena itu filsafah pendidikan nasional mulai mengarah kepada pandangan yang bersifat humanisme teistik. Sifat tersebut sesuai dengan sifat bangsa Indonesia yang bercorak sosialistik religius, berdasarkan Pancasila. Dan filsafah ini melahirkan rumusan tujuan pendidikan Nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya , yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan ( UU No.2 Tahun 1989 Bab II, p.4).  Dan di antara keputusan politik dalam pendekatan sistematik yang menyangkut pendidikan Islam adalah masuknya pendidikan Islam debagai sub sistem dalam sistem pendidikan Nasional. Oleh karena, itu harus diupayakan agar semua kegiatan dan kelembagaan pendidikan Islam dapat di masukkan ke dalam sistem nasional ini. Namun jika pendidikan Islam menempatkan dirinya di luar sistem Nasional tersebut, maka akan mengakibatkan terisolasi dari peraturan politik, dan berarti ia kehilangan peluang untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang belum masuk ke dalam sistem pendidikan nasional adalah pondok pesantren. Padahal pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa jauh sebelum kebangkitan Nasional.  Pada masa revolusi, pondok  pesantren merupakan basis perlawanan terhadap penjajah yang terbukti telah berhasil menumbuhkan semangat patriotisme tanpa kenal kompromi. Posisi pondok pesantren yang berada di luar sistem pendidikan nasional ini mengakibatkan lemahnya sentuhan tenaga terampil, minimnya dana serta terbatasnya ruang gerak para alumni untuk ikut mewarnai sektor formal dalam jajaran politik nasional. Justru yang paling banyak memperoleh peluang dari pendidikan Islam adalah sekolah-sekolah akademik dan profesional yang diselenggarakan oleh umat Isalm.
            Tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia yang cerdas dan terampil serta memiliki kepribadian yang mampu mendukung pembangunan Nasional.  Esensi ilmu terletak pada rasionalisme kritis, esensi teknologi pada efektifitas dan efesiensi yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Sedangkan esensi ilmu keagamaan terletak pada kemampuannya untuk mengembangkan manusia agar menjadi manusia beriaman dan bertaqwa yang sungguh-sungguh sehingga dapat tampil sebagai kholifatullah fil’ard yang dapat mewujudkan rahmatan lil’alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar